lemah
direlung hati aku terdiam
menatap malam yang mencekam
terbalut dingn yang mengancam
gemetar tangan yang saling menggenggam
hidup terus bergulir
bersama air dia mengalir
mencari celah hati di pesisir
desak jiwa yang terus mengukir
indah waktu tak ingin terkikis
oleh resah jiwa yang mendesis
terseret waktu ke ujung siklis
hilang semua doa dan tangis
ragaku terpaku
lidahku pun kelu
dihantui oleh masa lalu
torehkan luka dan malu
ternyata rasa itu telah hilang
ketika pagi tak kunjung datang
tuk sambut mentari oleh tawa riang
menanti indah kembali menjelang
gunung tinggi yang menjulang
kokohkan bumi dan menopang
meskipun badai menantang
dia takkan tumbang
tapi hati ini miliki batasan
tak sanggup terus menahan
hadirnya semua luka goresan
yang terus saja engkau torehkan
bukan ku ingin meninggalkan
tapi tak dayaku tuk terus merasakan
tulus hati tak kau hiraukan
mengubah indah menjadi siksaan
ku ingin lepaskan semua jeratan
tapi aku takut sendirian
terombang-ambing di tengah lautan
tanpa adanya tempat peraduan