terganti
tertepiskan oleh rasa cintaku padamu
semua keluh kesah ku simpan sendiri
meski luka ini sulit terobati
tapi aku tetap tak berusaha mengakhiri
kau memanglah bukan sang mentari
ataupun bintang yang menyinariku
kau selalu datang dan pergi
tanpa pedulikan malam di belakangmu
bukan ku menyesali waktu
hanya saja ku tetap terpaku
sulit bagiku berlalu
ketika kau tak lagi di sisiku
mungkin ini memang salahku
yang tak pernah menyadari itu
tak berarti aku tak pedulikanmu
ku tetap memperhatikanmu
ku tak bisa berucap
aku selalu kelu tiap kali ku sadari itu
tak bisa sampaikan maksud hatiku
sampai akhirnya terbang perlahan
menuju langit yang kelam
harapan sudah menggapai kehampaan
kekosongan terus melanda
serasa hilang sudah jiwa dan raga
hadir cahaya di kejauhan
ku dekati dan ku gapai
mengapa sulit untuk memulai
aku takut akan suatu akhir
cahaya kini sudah di hadapanku
ku coba raih dengan tanganku
ku genggam tanpa ragu
meyakinkan sesuatu yang pilu
bahkan tak kan terjadi akhir yang sendu
yang terus membekas di sudut kalbu
tak terlintas dalam benakku
bahwa memang dia yang satu
selalu mendampingi setiap langkahku
membantu menepis luka lalu
menghidupkan jiwa yang telah rapuh
menguatkan ketika kegoncangan semakin menderu
menggenggam tanganku yang lesu
tak pernah lepaskan sampai akhir waktu
membuat candu yang baru
merindu tiap dekap waktu
menunggu kembali sang bulanku
hanya dia tau
tak ada dewi tanpa bulannya
semua keluh kesah ku simpan sendiri
meski luka ini sulit terobati
tapi aku tetap tak berusaha mengakhiri
kau memanglah bukan sang mentari
ataupun bintang yang menyinariku
kau selalu datang dan pergi
tanpa pedulikan malam di belakangmu
bukan ku menyesali waktu
hanya saja ku tetap terpaku
sulit bagiku berlalu
ketika kau tak lagi di sisiku
mungkin ini memang salahku
yang tak pernah menyadari itu
tak berarti aku tak pedulikanmu
ku tetap memperhatikanmu
ku tak bisa berucap
aku selalu kelu tiap kali ku sadari itu
tak bisa sampaikan maksud hatiku
sampai akhirnya terbang perlahan
menuju langit yang kelam
harapan sudah menggapai kehampaan
kekosongan terus melanda
serasa hilang sudah jiwa dan raga
hadir cahaya di kejauhan
ku dekati dan ku gapai
mengapa sulit untuk memulai
aku takut akan suatu akhir
cahaya kini sudah di hadapanku
ku coba raih dengan tanganku
ku genggam tanpa ragu
meyakinkan sesuatu yang pilu
bahkan tak kan terjadi akhir yang sendu
yang terus membekas di sudut kalbu
tak terlintas dalam benakku
bahwa memang dia yang satu
selalu mendampingi setiap langkahku
membantu menepis luka lalu
menghidupkan jiwa yang telah rapuh
menguatkan ketika kegoncangan semakin menderu
menggenggam tanganku yang lesu
tak pernah lepaskan sampai akhir waktu
membuat candu yang baru
merindu tiap dekap waktu
menunggu kembali sang bulanku
hanya dia tau
tak ada dewi tanpa bulannya